KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT karena atas berkat Rahmat dan Karunianya sehingga
paper yang berjudul “ARTI PENTING SOFT
SKILL” ini dapat kami selesaikan dan terwujud sesuai dengan yang
direncanakan.
Kami
percaya bahwa paper ini tidak mungkin terwujud tanpa bantuan dari pihak lain.
Oleh karena itu pada kesempatan ini kami menyampaikan ucapan terima kasih
kepada semua pihak khususnya dosen pembimbing mata kuliah Kewirausahaan yang sudah membimbing dalam pembuatan Paper
ini dan semua teman-teman seperjuangan
yang sudah membantu terwujudnya tugas paper ini.
Sesuai
dengan pribahasa yang berbunyi “tak ada gading yang tak retak” maka kami
menyadari sepenuhnya bahwa paper ini masih banyak kekurangannya, oleh karena
itu saran dan kritik dari manapun akan kami terima dengan senang hati.
Akhir
kata kami berharap semoga paper ini bermanfaat baik kami sendiri maupun
pembacanya.
Jember,
8 Oktober 2015
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
cover
KATA PENGANTAR................................................................................ i
Daftar Isi................................................................................................ ii
BAB 1 PENDAHULUAN........................................................................... iii
1.1
Latar Belakang........................................................................ iii
1.2 Pengertian................................................................................ iii
1.3 Metode Penulisan.................................................................... iv
1.4 Rumusan
Masalah.................................................................. v
Bab 2 Pembahasan
............................................................................... 1
Sinergi Soft Skill dan Hard Skill ...................................................... 1 Apa hubungan Softkill,
Hardskill dengan
sekolah atau kuliah ? ........................................................................ 2 Mengapa
harus Softskill? 3 Kebutuhan
Soft Skill Di Dunia Kerja................................................ 3
Cara
Mengasah Softskill.................................................................... 5
Bab 3 Penutup
Kesimpulan ..................................................................................... 9
Daftar Pustaka .............................................................................. 10
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Softskill adalah istilah dalam EQ
seseorang yang dapat di kategorikan kedalam kehidupan sosial komunikasi, dan
kebiasaan, softskill merupakan keterampilan seseorang yang berhubungan dengan
bidang ilmunya, yang melatari adanya softskill adalah karena setiap orang
memiliki bakat yang dimana bakat tersebut nantinya akan mempengarusi segi
psikologi dari orang tersebut dalam kehidupannya.
Softskills adalah sebuah istilah dalam
sosiologi tentang EQ (Emotional Intelligence Quotient) seseorang, yang dapat
dikatagorikan /klusterkan menjadi kehidupan sosial, komunikasi, bertutur
bahasa, kebiasan, keramahan, optimasi.
1.2 PENGERTIAN
Soft skill adalah suatu kemampuan,
bakat, atau keterampilan yang ada di dalam diri setiap manusia. Soft skill
adalah kemampuan yang dilakukan dengan cara non teknis, artinya tidak berbentuk
atau tidak kelihatan wujudnya. Namun , softskill ini dapat dikatakan
sebagai keterampilan personal dan inter personal.
Yang dimaksud softskill personal adalah
kemampuan yang di manfaatkan untuk kepentingan diri sendiri. Misalnya, dapat
mengendalikan emosi dalam diri, dapat menerima nasehat orang lain, mampu
memanajemen waktu, dan selalu berpikir positif. Itu semua dapat di kategorikan
sebagai softskill personal.
Kemudian yang dimaksud softskill inter
personal adalah kemampuan yg dimanfaatkan untuk diri sendiri dan orang lain.
Contohnya, kita mampu ber hubungan atau ber interaksi dengan orang lain,
bekerja sama dengan kelompok lain, dan lain lain.
Nah, softskill juga harus di iringi
dengan hardskill, karena kita hidup tidak boleh hanya mempunyai softskill yang
berkualitas saja, tapi hardskill kita perlu diperhatikan. Dengan memiliki
hardskill yang baik, kita bisa menjadi manusia yang berkualitas. Misalnya, kita
di sekolahkan oleh orang tua kita, kita akan memiliki ilmu pengetahuan, nah
ilmu tersebut akan kita gunakan dalam kehidupan kita nanti, oleh karena itu,
hardskill dan softskill yang seimbang dapat menumbuhkan jiwa/pribadi yang
berkualitas
Soft Skill atau keterampilan lunak
menurut Berthhall (Diknas, 2008) mendefinisikan soft skill sebagai “personal
and interpersonal behaviour that develop and maximize human performance (e.g.
coaching, team building, decision making, initiative).” merupakan tingkah
laku personal dan interpersonal yang dapat mengembangkan dan memaksimalkan
kinerja manusia (melalui pelatihan, pengembangan kerja sama tim, inisiatif,
pengambilan keputusan lainnya. Keterampilan lunak ini merupakan modal dasar
peserta didik untuk berkembang secara maksimal sesuai pribadi masing-masing.
Jadi
menurut saya soft skill itu adalah suatu kelebihan/bakat yang terpendam dalam
diri kita masing – masing dan dapat diperolehnya melalui pembelajaran yang
berkaitan dengan pengembangan diri seseorang atau berlatih keras untuk mengembangkan
bakat yang dimiliki .Dan kesimpulannya setiap manusia itu memiliki apa yang
namanya soft skill namun tidak banyak manusia yang mengetahui cara
memperolehnya.
1.3 METODE PENULISAN
Metode pengumpulan data yaitu suatu
cara pengumpulan suatu bahan untuk dijadikan suatu PAPER agar data yang
terkumpul mampu memberikan penegasan pada Masalah tersebut.Dalam menyusun PAPER
ini penulis menggunakan metode study literatur yaitu dengan cara mengumpulkan,
menganalisis bukti-bukti tertentu untuk memperoleh fakta dan kesimpulan yang
kuat. Dimana pengumpulan data diperoleh dari berbagai macam sumber sebagai
bahan untuk dijadikan suatu PAPER.
1.4 Rumusan Masalah
Dari latar
belakang ,pengertian dan metode penulisan yang telah diuraikan diatas, maka
muncul pertanyaan seperti berikut
1. Apa
makna dari soft skill itu sendiri ?
2. Hubungan
soft skill dengan lapangan pekerjaan?
3.
Kebutuhan soft skill didunia kerja?
4.
Keterkaitan antara soft skill dan hard skill?
5.
Cara mengasah soft skill?
PEMBAHASAN
Softskill adalah sebuah prilaku yang membangun suatu karakter manusia untuk bisa menggunakan EQ(Emotional Intelligence Quotient). Dalam dunia kerja selain hardskill, softskill sangatlah berperan dalam pengambilan inisiatif, bisa saling bekerjasama, dan gigih.Pada dasarnya setiap manusia mempunyai softskillnya masing-masing, tetapi hanya pengimplementasiannya yang mungkin berbeda. Softskill mengembangkan kepribadian seseorang untuk menjadi lebih baik.Pada jaman ini banyak persaingan di dunia kerja, bahkan persaingan tersebut tidak meliputi kemampuan hardskill tetapi softskill sangat berperan penting disini. Biasanya perusahaan membutuhkan karyawan yang cekatan dalam bekerja, selalu mempunyai inisiatif, bisa bekerja secara tim dan bisa mengembangkan diri disebuah organisasi. Softskill dibagi menjadi 2 kategori yaitu intrapersonal skill dan interpersonal skill. Masing-masing dari kategori tersebut mempunyai arti tersendiri
Softskill adalah sebuah prilaku yang membangun suatu karakter manusia untuk bisa menggunakan EQ(Emotional Intelligence Quotient). Dalam dunia kerja selain hardskill, softskill sangatlah berperan dalam pengambilan inisiatif, bisa saling bekerjasama, dan gigih.Pada dasarnya setiap manusia mempunyai softskillnya masing-masing, tetapi hanya pengimplementasiannya yang mungkin berbeda. Softskill mengembangkan kepribadian seseorang untuk menjadi lebih baik.Pada jaman ini banyak persaingan di dunia kerja, bahkan persaingan tersebut tidak meliputi kemampuan hardskill tetapi softskill sangat berperan penting disini. Biasanya perusahaan membutuhkan karyawan yang cekatan dalam bekerja, selalu mempunyai inisiatif, bisa bekerja secara tim dan bisa mengembangkan diri disebuah organisasi. Softskill dibagi menjadi 2 kategori yaitu intrapersonal skill dan interpersonal skill. Masing-masing dari kategori tersebut mempunyai arti tersendiri
a) Intrapersonal skill adalah ketrampilan
seseorang dalam mengatur dirinya sendiri untuk pengembangan kerja secara
optimal.
b) Interpersonal skill adalah ketrampilan seseorang
dalam hubungan dengan orang lain untuk pengembangan kerja secara optimal.
Hal tersebut menunjukkan bahwa hardskill merupakan
faktor penting dalam bekerja, namun keberhasilan seseorang dalam bekerja
biasanya lebih ditentukan oleh softskillnya yang baik.
Sinergi Soft Skill dan Hard Skill
Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya
dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari
nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah
Azza wajalla. (HR. Ahmad)
Bukan hanya di lingkungan akademisi kita di tuntut
untuk mengembangkan sofkill kita, sebelum nantinya kita siap untuk memasuki
dunia nyata (real word) tapi pengasahahan sofkill juga di dalam agama kita di
suruh untuk mengasahnya keterampilan menjadi seorang yang profesional dan ahli
di bidang yang digeluti.
Hadist di atas menegaskan kita untuk membangun sebuah
kemapuan baik itu Hardskill maupun Sofkill. Sukses meraih cita-cita dan karir
di masa depan tidak hanya ditentukan oleh hardskill, seperti tingginya nilai
indeks prestasi (IP), penguasaan teori serta terampil dalam mengoperasikan
peralatan laboratorium dan perangkat berteknologi tinggi. Ada banyak cerita
dari orang-orang yang tidak memiliki IP yang tinggi meraih sukses dalam
kehidupannya, karena mereka mengandalkan pertumbuhan softskill.
Istilah softskill memang tergolong baru terdengar,
tetapi softskill merupakan kemampuan-kemampuan dasar yang perlu ditumbuhkan
dalam diri Anda, agar Anda dapat memotivasi diri dan orang lain, bertanggung
jawab, membangun relasi, berkomunikasi, negosiasi, beradaptasi dengan
lingkungan, berkreasi, berinovasi dan berwirausaha, memimpin, membangun
kerjasama, mengelola sumber daya dan lain sebagainya.
Apa hubungan Softkill,
Hardskill dengan sekolah atau kuliah ?
Bukan berarti bahwa sekolah atau kuliah menjadi
tidak penting. Namun, keseimbangan dari pertumbuhan hardskill dan softskill
akan membuat Anda mengalami sukses lebih cepat dan lebih jauh dari kesuksesan
yang hanya ditunjang oleh salah satu faktor tersebut. Perpaduan antara
hardskill dan softskill sangat diperlukan untuk meraih jenjang karir yang
tinggi atau memperluas bisnis di masa
Mengapa
harus Softskill?
Banyak lulusan dari perguruan tinggi baik itu
negerti dan swasata yang tidak siap menghadapi dunia nyata atau dunia kerja.
Persaingan yang ketat kita di tuntut untuk memiliki kempuan yang lebih bukan
hanya kemampuan Hardskill (nilai IPK yang tinggi) tetapi kita di tuntut untuk
memeliki sebuah kompetensi seorang lulusan.
Berikut ini kompetentsi lulusan yang di harus
dimiliki didalam menghadapi persaingan di dunia nyata :
Ø Komunikasi
tertulis
Ø Bekerja
dalam tim
Ø Teknologi
Ø Berpikir
logis
Ø Berkomunikasi
lisan
Ø Bekerja
mandiri
Ø Ilmu
pengetahuan
Ø Berpikir
analitis
Kemampuan-kemampuan di atas sebenarnya kita bisa
dapatkan semasa sekolah, kuliah. Organisasilah yang bisa membentuk seseorang
bisa memiliki kemampuan-kemampuan di atas, apakah anda memiliki
kemampuan-kemampuan tersebut ? Belajar dan belajar itulah jawabannya dan yang
paling penting percaya pada kata “PROSES”.
Kebutuhan
Soft Skill Di Dunia Kerja
Di dalam persaingan seperti
sekarang, kebutuhan akan tenaga kerja yang memiliki profesionalisme dan
manajerial skill yang berbasis kemampuan sudah merupakan tuntutan. Terlebih di
dunia kerja sekarang banyak dipengaruhi perubahan pasar, ekonomi dan teknologi.
Tenaga kerja yang memiliki kecerdasan emosional (Emotional Quatient) sangat
mendukung pemenuhan kebutuhan tersebut disamping kecerdasan intelektual.
Berdasar hasil survey Nasional Assosiation of Colleges and Employers USA (2002)
terhadap 457 pimpinan perusahaan menyatakan bahwa Indeks Kumulatif Prestasi
(IPK) bukanlah hal yang dianggap penting dalam dunia kerja. Yang jauh lebih
penting adalah sotfskill antara lain kemampuan komunikasi, kejujuran,
kerjasama, motivasi, kemampuan beradaptasi dan kemampuan interpersonal dengan
orientasi nilai pada kinerja yang efektif.
Kemampuan
softskill diatas, sebetulnya masuk dalam kecerdasan emosional yang menurut
definisi adalah Kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan orang lain,
Kemampuan memotivasi diri, Kemampuan mengendalikan diri/ mengelola emosi pada
diri sendiri dalam hubungan dengan orang lain (Daniel Goleman). Ada lima
kecedasan emosial yang dibutuhkan didunia kerja sekarang ini, yaitu :
- Kesadaran Emosional , yang meliputi kedewasaan
emosi dalam pengambilan keputusan yang win-win solution.
- Pengelolaan Emosional (pengedalian diri) yang
meliputi kemampuan kepekaan, sabar dan tabah dalam menjalankan
tugas.
- Motiovasi Diri, yang meliputi kemampuan
berpikir positif, ulet dan pantang menyerah
- Empati pada Sesama ; yang meliputi
kemampuan memahami, merasakan, peduli, hangat, akrab dan kekeluargaan
- Ketrampilan Sosial , yang meliputi kemampuan
bermusyawarah, bekerjasama, kepentingan umum/tim)
Di sisi lain secara teori, di
dalam dunia kerja, ada 3 (tiga) unsur utama yang harus dipenuhi agar seseorang
dikatakan memiliki kompetensi yang meliputi kompetensi knowledge atau
cognitive domain, skill atau psychomotor domain, serta attitude atau affective
domain.(Jayagopan Ramasamy, Malaysia 2006). Dalam teori tersebut dikatakan
bahwa kompetensi tersebut harus bisa diukur (measurable), dinilai, ditunjukkan
(demonstrable) dan diamati (observable) melalui perilaku pada saat melaksanakan
tugas. Sasaran akhir dari kompetensi adalah perilaku yang diharapkan (desired
behaviour) dan perlu ditunjukkan dalam melaksanakan tugas. kompetensi yang
berkaitan langsung dengan bidang kerja.
Selain itu menurut Spencer &
specer ada 2 (dua) kompetensi yang berkaitan dengan bidang kerja, yakni Generic
competencies, merujuk pada kompetensi yang perlu ada pada semua pegawai
mengarah ke softskills, sikap mental dalam bekerja dan Functional competencies,
merujuk pada kompetensi khusus yang diperlukan bagi suatu fungsi atau pekerjaan
tertentu mengarah ke hardskills dan kemampuan teknis. Sedangkan di lapangan,
kompetensi tersebut terbagi atas kebutuhan kemampuan Knowledge: diukur melalui
ujian penilaian yang dilaksanakan oleh pihak berwenang, Skill : diukur dengan
mengikutsertakan ke dalam pelatihan-pelatihan tertentu dan Attitude:
diukur secara lebih subjektif melalui penilaian terhadap perilaku yang
ditunjukkan dalam melaksanakan tugas. Knowledge (melalui pendidikan), Skill
(melalui pelatihan) dan Attitude yg harus dimiliki oleh tenaga kerja
disesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha/dunia kerja dengan menggunakan konsep
Link and Match.
Sedangkan
ketrampilan softskill tenaga kerja, dalam perkembangannya banyak disumbang oleh
karakter pribadi yang berasal dari didikan lingkungan keluarga (pola asuh),
tradisi dan pengaruh lingkungan sekolah (sosial).Di beberapa perusahaan,
ketrampilan softskill yang dibutuhkan meliputi leadership, kreativitas,
kominukasi, kejujuran dan fleksibel. Memang dalam prakteknya ketrampilan
softskill dapat dilatih dan disiapkan, namun menurut pengalaman dari PT Charoen
Pokphand Indonesia misalnya, perubahan-perubahan dalam organisasi
termasuk budaya organisasi juga dapat menyumbang terhadap peningkatan softskill
tenaga kerja. Pembinaan softskill yang baik, menurut pengalaman PT. Charoen
dengan komunikasi asertif, yaitu komunikasi yang berdasar keterbukaan, jujur,
tegas, langsung dan dengan cara yang sopan.
Cara Mengasah Softskill
Soft skill menjadi kemampuan yang mutlak diperlukan
di dunia kerja. Para praktisi perusahaan memahami bahwa soft skill memiliki
pengaruh besar terhadap kinerja seseorang. Bisa saja orang tersebut sangat
pandai dalam rumus atau hitungan matematis, namun ketika diajak untuk bekerja
dalam tim, ia tidak mampu menelurkan idenya.
Penguasaan soft skill tidak dapat diperoleh secara instan. Menurut Galuh Setia Winayu, Supervisor Training & Counseling ECC UGM, soft skill hendaknya dilatih secara bertahap sejak dini. “Pendidikan di Indonesia menurut saya justru mendorong anak-anaknya untuk patuh, tidak kritis dan membunuh kreativitas mereka. Hal ini menyebabkan banyak jobseeker yang akhirnya cenderung pasif dan kurang inisiatif,” ungkapnya.
Sama halnya dengan Galuh, Daniel Christiananda, HR Recruitment and Training PT Gameloft Indonesia, kemampuan soft skill idealnya dilatih melalui hal-hal sederhana. “Dalam anggota keluarga misalnya, seorang anak bisa dilatih untuk bersikap sopan, berlatih untuk mengambil keputusan dan mempertanggungjawabkannya,” jelas Daniel.
Namun, apakah terlambat jika Anda ingin melatih kemampuan soft skill saat ini? Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Berikut tiga cara bagaimana melatih soft skill.
1. Berani jadi pemimpin di organisasi
Dalam mengikuti sebuah organisasi hendaknya jangan hanya menjadi follower, berani mengambil inisiatif untuk menjadi pemimpin dan mengoordinasi pekerjaan. Hal ini akan membuat Anda mampu berkoordinasi dengan baik, mengenal sistem birokrasi, dan memiliki solusi tepat dalam memecahkan masalah.
2. Mengikuti Outbound
Banyak jenis outbound yang mengandalkan kerjasama tim ataupun daya pikir personal. Outbound games menuntut pesertanya untuk kreatif karena membutuhkan daya juang tinggi dalam menyelesaikan tiap tantangan. Tidak ada sistem reward maupun punishment, dalam outbound mereka diharapkan mampu mengambil filosofi di balik permainan yang dilakukan.
3. Teori dan praktik yang dirangkum dalam pelatihan soft skill
Training bukanlah shortcut bagi Anda untuk menguasai soft skill yang dibutuhkan di dunia kerja. Namun dengan training, Anda diharapkan mampu untuk menguasai materi dan mengaplikasikannya secara spesifik. Dari berbagai macam contoh yang diberikan, Anda diharapkan mampu mengambil pelajaran lebih jauh. Tidak jarang, dalam training terdapat games yang melatih kekompakan dan kreativitas. Melalui soft skill training, Anda bisa belajar banyak secara lebih intens dengan trainer maupun peserta lain tentang permasalahan yang pernah Anda hadapi.
Ada beragam manfaat yang dapat diperoleh ketika kita mampu menguasai soft skill. Misalnya, dapat menjadi atribut kualitas jasa, mampu menjadi individu mandiri, membangun karakter dan kepribadian yang berkualitas, dapat bersosialisasi dalam tim, menumbuhkan kepekaan wawasan pemikiran dan membentuk jiwa kritis.
Pada akhirnya, semua kembali pada motivasi dan usaha yang Anda miliki. Berbagai upaya di atas hanyalah jalan untuk memfasilitasi Anda mendapatkan hasil optimal. Seperti apa yang ditulis Katherine Hepburn: “If you have to support yourself, you had bloody well better find some way that is going to be interesting.” [CN/MD/Fzi]
Penguasaan soft skill tidak dapat diperoleh secara instan. Menurut Galuh Setia Winayu, Supervisor Training & Counseling ECC UGM, soft skill hendaknya dilatih secara bertahap sejak dini. “Pendidikan di Indonesia menurut saya justru mendorong anak-anaknya untuk patuh, tidak kritis dan membunuh kreativitas mereka. Hal ini menyebabkan banyak jobseeker yang akhirnya cenderung pasif dan kurang inisiatif,” ungkapnya.
Sama halnya dengan Galuh, Daniel Christiananda, HR Recruitment and Training PT Gameloft Indonesia, kemampuan soft skill idealnya dilatih melalui hal-hal sederhana. “Dalam anggota keluarga misalnya, seorang anak bisa dilatih untuk bersikap sopan, berlatih untuk mengambil keputusan dan mempertanggungjawabkannya,” jelas Daniel.
Namun, apakah terlambat jika Anda ingin melatih kemampuan soft skill saat ini? Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Berikut tiga cara bagaimana melatih soft skill.
1. Berani jadi pemimpin di organisasi
Dalam mengikuti sebuah organisasi hendaknya jangan hanya menjadi follower, berani mengambil inisiatif untuk menjadi pemimpin dan mengoordinasi pekerjaan. Hal ini akan membuat Anda mampu berkoordinasi dengan baik, mengenal sistem birokrasi, dan memiliki solusi tepat dalam memecahkan masalah.
2. Mengikuti Outbound
Banyak jenis outbound yang mengandalkan kerjasama tim ataupun daya pikir personal. Outbound games menuntut pesertanya untuk kreatif karena membutuhkan daya juang tinggi dalam menyelesaikan tiap tantangan. Tidak ada sistem reward maupun punishment, dalam outbound mereka diharapkan mampu mengambil filosofi di balik permainan yang dilakukan.
3. Teori dan praktik yang dirangkum dalam pelatihan soft skill
Training bukanlah shortcut bagi Anda untuk menguasai soft skill yang dibutuhkan di dunia kerja. Namun dengan training, Anda diharapkan mampu untuk menguasai materi dan mengaplikasikannya secara spesifik. Dari berbagai macam contoh yang diberikan, Anda diharapkan mampu mengambil pelajaran lebih jauh. Tidak jarang, dalam training terdapat games yang melatih kekompakan dan kreativitas. Melalui soft skill training, Anda bisa belajar banyak secara lebih intens dengan trainer maupun peserta lain tentang permasalahan yang pernah Anda hadapi.
Ada beragam manfaat yang dapat diperoleh ketika kita mampu menguasai soft skill. Misalnya, dapat menjadi atribut kualitas jasa, mampu menjadi individu mandiri, membangun karakter dan kepribadian yang berkualitas, dapat bersosialisasi dalam tim, menumbuhkan kepekaan wawasan pemikiran dan membentuk jiwa kritis.
Pada akhirnya, semua kembali pada motivasi dan usaha yang Anda miliki. Berbagai upaya di atas hanyalah jalan untuk memfasilitasi Anda mendapatkan hasil optimal. Seperti apa yang ditulis Katherine Hepburn: “If you have to support yourself, you had bloody well better find some way that is going to be interesting.” [CN/MD/Fzi]
BAB III
KESIMPULAN
KESIMPULAN
Soft skill merupakan keterampilan diluar keterampilan teknis
dan akademis, dan lebih mengutamakan keterampilan intra dan inter
personal. Keterampilan intra
personal mencakup kesadaran diri (kepercayaan diri, penilaian diri,
sifat dan preferensi, serta kesadaran emosi) dan keterampilan diri (peningkatan
diri, pengendalian diri, manajemen sumber daya, pro aktif). Sedangkan
keterampilan inter personal
mencakup kesadaran sosial (kesadaran politik, memanfaatkan keragaman,
berorientasi pelayanan) dan keterampilan sosial (kepemimpinan, pengaruh,
komunikasi, kooperatif, kerja sama tim, dan sinergi). Soft skill mumpuni mutlak harus dimiliki oleh manusia sebagai
modal untuk mengarungi berbagai bidang kehidupan seperti pekerjaan, rumah
tangga, organisasi masyarakat, dan lain-lain. Sebagai contoh, di dunia kerja
dalam proses perekrutan karyawan baru, keterampilan teknis (hard skill) lebih mudah diseleksi
berdasarkan daftar riwayat hidup, indeks prestasi, pengalaman kerja dan
berbagai keterampilan yang dikuasai. Sedangkan soft skill dievaluasi berdasarkan psikotest dan wawancara
mendalam. Hasil dari psikotest tersebut akan digunakan perusahaan untuk
menempatkan karyawan di posisi yang tepat. Dewasa ini, semua perusahaan
mensyaratkan adanya kombinasi yang seimbang antara hard skill dan soft
skill untuk semua posisi karyawan. Pendekatan hard skill dianggap sudah tidak efektif, percuma saja jika hard skill baik tapi soft skill nya buruk. Perusahaan akan
lebih memilih calon karyawan yang memiliki kepribadian dan karakter lebih baik
walaupun tidak ditunjang hard skill yang
mumpuni. Alasannya jelas, karena melatih keterampilan teknis jauh lebih mudah
daripada pembentukan karakter seseorang. Dengan kata lain, hard skill merupakan faktor penting
bagi manusia dalam bekerja, tetapi keberhasilan seseorang dalam bekerja
biasanya lebih ditentukan oleh soft
skill yang lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar