بسم الله الرحمن
الرحيم
Bangkit untuk mengawal ASWAJA
Oleh: Muhyiddin Abdusshomad
Sabda
Rasulullah SAW, empat belas abad yang lampau dalam Hadits al-Iftiraq bahwa
Islam akan terbagi tujuh puluh tiga golongan, terus menandai perubahan zaman.
Dari waktu ke waktu, selalu bermunculan aliran-aliran baru dalam peta Islam.
Mulai dari aliran yang fundamentalis hingga yang liberal. Tapi intinya, kehadiran
mereka dengan segala ideologi dan amaliahnya berlawanan dengan amaliah warga NU. Mereka begitu
gampang memberikan “stempel” kafir, bid’ah, khurafat, sesat, ketinggalan zaman dan
sebagainya pada aqidah, amaliah yang tidak sesuai dengan keyakinan mereka. Dan barang tentu yang paling terusik dengan kehadiran
dan agresivitas mereka adalah kader Nahdlatul Ulama’.
Sesungguhnya
apa yang mereka perdebatkan adalah persoalan klasik yang jelas-jelas mendapatkan jawaban tuntas dari para ulama
terdahulu. Amaliah yang mereka persoalkan merupakan tradisi masyarakat yang
dapat dikatakan telah menjadi cita dan jati diri bangsa Indonesia, dan semuanya
telah dijawab secara paripurna oleh salafuna al sholih. Misalnya dalam
masalah kebangsaan, dalam menanggapi seruan membentuk khilafah islamiyyah dan
Negara Islam, ulama NU telah lama menegaskan bahwa bentuk NKRI adalah keputusan
“final” dan harus tetap dipertahankan. Dimotori oleh KH. Ahmad Siddiq ulama NU telah memberikan argumen teologis
dan fiqhiyyah atas pilihannya untuk
mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Demikian
pula halnya tradisi keagamaan yang “dituding” sebagai perbuatan bid’ah dan
sesat, seperti tahlilan, maulidan dan semacamnya, semuanya telah dijelaskan
secara paripurna tentang kebolehannya. Dalam hal ini telah banyak referensi
yang mendukung amaliah tersebut, termasuk buku yang penulis susun dengan judul
Fiqh Tradisionalis, (menjawab pelbagai persoalan keagamaan sehari-hari), Tahlil
dalam Perspektif al-Qur’an dan as-Sunnah, Argumen Amaliah di Bulan Sya’ban dan
Ramadlan dan masih banyak lagi buku yang disusun oleh para tokoh NU.
Namun
yang menjadi pertanyaan “menggelitik” adalah,
mengapa mereka yang membawa aliran baru dengan mengusung gagasan klasik itu, masih mendapat tempat di hati
masyarakat?. Salah satu alasannya adalah karena pemimpin mereka telah “canggih”
di dalam memantapkan suatu keyakinan yang ditanamkan. Disamping semangat yang
tak pernah pudar dan nyali yang tak
kunjung surut. Serta cara kerja yang terencana dengan baik, dan mereka juga mampu menjalankan pembagian tugas dengan
rapi.
Sementara
Aswaja an-Nahdliyyah telah kehilangan “ruhnya” di tengah masyarakat. Jika
persoalan teologis sudah dirampungkan oleh para ulama terdahulu, berarti
permasalahan saat ini terletak pada generasi penerus yang tidak memahami
ajaran-ajaran tersebut, atau kalaupun mereka paham, tetapi tidak ada usaha untuk
menyebarkannya, baik melalui ucapan, tulisan atau tingkah laku keseharian.
Sehingga tidak dapat disalahkan jika umat berusaha mencari pedoman lain yang
menurut mereka lebih “sesuai dengan al-Qur’an dan al-hadits.”
Sinyalemen
seperti ini pernah dikemukakan oleh KH. Hasyim Muzadi. Dalam sebuah tulisannya
yang berjudul “Bangsa dan Ideologi
Transnasional” beliau menyatakan:
Proses
mencairnya kultur keagamaan seperti ini mengandung implikasi sosial yang perlu
diwaspadai oleh warga nahdliyyin. Jika tidak diwaspadai, gejala sosial ini akan
menimbulkan kerawanan sosial yang cukup serius bagi kelangsungan ajaran NU.
Masalahnya terletak pada anak-anak muda tersebut yang tidak memahami ajaran
aswaja seutuhnya, sehingga memungkinkan
ajaran-ajaran model baru gampang masuk dan mempengaruhi cara berfikir
dan bertindak mereka. Kekhawatiran ini sesungguhnya sudah terjadi, ada sejumlah
anak muda NU –bahkan ulama NU—yang “ikut-ikutan” manjadi aktifis FPI, HTI, MMI
atau PKS. (KH. Hasyim Muzadi dkk, Mewaspadai Gerakan Transnasional, 21)
Jadi
sebenarnya terdegradasinya ajaran aswaja di tengah masyarakat, bukan karena
dalil-dalil atau konsep yang ditawarkan ideologi “pendatang baru” lebih kuat atau lebih mapan
daripada keyakinan yang telah lama
berkembang di Indonesia khususnya aswaja an-nahdliyyah. Melaikan berasal dari
internal kita sendiri yang enggan untuk melakukan penguatan ideologi. Sehingga
ketika ada yang menyerang, kita tidak siap untuk melakukan “perlawanan”.
Harus
diakui, sejak era reformasi bergulir, kita kadang terlena dengan urusan politik
praktis. Tidak sedikit yang hanyut ikut larut dalam arus politik. Para elit NU tidak
kalah sibuk mengejar kekuasaan. Akibatnya, penguatan internal NU dan pemberdayaan
umat, terabaikan. Memang tidak ada larangan berpolitik praktis sepanjang diikhtiarkan
untuk kepentingan NU. Namun hal tersebut jangan sampai “menenggelamkan” misi utama
kita dalam memperjuangkan Aswaja. Lebih miris lagi apabila tidak ada pembagian
tugas yang jelas antara ulama NU yang berpolitik praktis dan yang mengayomi
umat, karena pada gilirannya akan melahirkan hal yang memprihatinkan.
Sebagai ilustrasi:
Dulu,
para kiai NU itu sangat mulya. Foto mereka diletakkan dalam bingkai yang begitu
indah dan mahal harganya. Foto itu dipajang di ruang tamu, kantor, majlis
taklim dan tempat-tampat lain yang terhormat. Umat memandangnya dengan penuh hormat dan rasa bangga sembari terlintas
keinginan di hatinya untuk bertemu seraya ingin mencium tangannya sebagai ungkapan
rasa cinta kepada pemimpinnya. Namun kini kondisi itu berubah seratus delapan
puluh derajat. Foto mereka dalam ukuran besar menjadi “penunggu” perempatan
jalan, digantung di pohon asam dan sebagainya karena digunakan oleh calon
gubernur, bupati, legislatif untuk menarik massa. Setiap hari terkena debu
jalanan, kehujanan, kepanasan, bahkan terkadang diterjang angin sehingga posisi
balihonya terbalik. Setiap orang yang lewat hanya meliriknya tanpa ekspresi, atau jika yang lewat adalah bukan pendukung
sang Calon, kadang ia mencibir foto itu. Oh, sungguh malang nasib foto-foto
mereka.
Melihat kenyataan seperti ini, maka perlu ada upaya dari para
kader NU untuk kembali membumikan ajaran aswaja dalam keseharian kita. Melakukan
penguatan ke dalam dengan kembali meneguhkan ajaran aswaja an-nahdliyyah di
tengah masyarakat. beberapa
usaha yang harus dilakukan oleh generasi muda ahlussunnah wal jamaah, antara
lain:
a. Memperluas dan memperdalam pengetahuan tentang
Ahlussunnah wal Jama’ah serta meningkatkan penghayatan dan pengamalannya juga
mensosialisasikannya kepada umat.
b. Meningkatkan keluhuran citra
ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah, dengan meningkatkan mutu pelaksanaannya.
c. Membuktikan keunggulan ajaran Ahlussunnah wal
Jama’ah dengan memperbanyak membaca dan mengkaji Kutub al-Turats. Bermusyawarah
serta berdiskusi untuk menjawab persoalan-persoalan yang muncul kepermukaan,
kemudian menjadikan ajaran ASWAJA sebagai alternatif solusinya.
d. Perlu adanya pembagian tugas yang jelas diantara
kader NU yang bertugas diwilayah politik praktis dan yang menjadi pengayom
umat.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan
kekuatan lahir-batin kepada para kader Nahdlatul Ulama untuk bangkit mengawal Aswaja ditengah dahsyatnya gelombang
perubahan saat ini. Amin
* Disampaikan pada acara Serasehan “PERAN NU DALAM
PERSPEKTIF KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA”. Bertempat di Gedung Astra Nawa, Jl.
Gayungsari barat no.35 Surabaya. Ahad Tanggal 17-Juni-2012
#semoga bermamfaat khususnya kaum
nahdliyin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar