KEBENARAN

Patut di pelajari

Minggu, 11 Oktober 2015



بسم الله الرحمن الرحيم
Bangkit untuk mengawal ASWAJA
Oleh: Muhyiddin Abdusshomad

Sabda Rasulullah SAW, empat belas abad yang lampau dalam Hadits al-Iftiraq bahwa Islam akan terbagi tujuh puluh tiga golongan, terus menandai perubahan zaman. Dari waktu ke waktu, selalu bermunculan aliran-aliran baru dalam peta Islam. Mulai dari aliran yang fundamentalis hingga yang liberal. Tapi intinya, kehadiran mereka dengan segala ideologi dan amaliahnya berlawanan  dengan amaliah warga NU. Mereka begitu gampang memberikan “stempel” kafir, bid’ah, khurafat, sesat, ketinggalan zaman dan sebagainya pada aqidah, amaliah yang tidak sesuai dengan keyakinan mereka. Dan  barang tentu yang paling terusik dengan kehadiran dan agresivitas mereka adalah kader Nahdlatul Ulama’.

Sesungguhnya apa yang mereka perdebatkan adalah persoalan klasik yang jelas-jelas  mendapatkan jawaban tuntas dari para ulama terdahulu. Amaliah yang mereka persoalkan merupakan tradisi masyarakat yang dapat dikatakan telah menjadi cita dan jati diri bangsa Indonesia, dan semuanya telah dijawab secara paripurna oleh salafuna al sholih. Misalnya dalam masalah kebangsaan, dalam menanggapi seruan membentuk khilafah islamiyyah dan Negara Islam, ulama NU telah lama menegaskan bahwa bentuk NKRI adalah keputusan “final” dan harus tetap dipertahankan. Dimotori oleh KH. Ahmad Siddiq  ulama NU telah memberikan argumen teologis dan fiqhiyyah atas pilihannya  untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Demikian pula halnya tradisi keagamaan yang “dituding” sebagai perbuatan bid’ah dan sesat, seperti tahlilan, maulidan dan semacamnya, semuanya telah dijelaskan secara paripurna tentang kebolehannya. Dalam hal ini telah banyak referensi yang mendukung amaliah tersebut, termasuk buku yang penulis susun dengan judul Fiqh Tradisionalis, (menjawab pelbagai persoalan keagamaan sehari-hari), Tahlil dalam Perspektif al-Qur’an dan as-Sunnah, Argumen Amaliah di Bulan Sya’ban dan Ramadlan dan masih banyak lagi buku yang disusun oleh para tokoh NU.

Namun yang menjadi pertanyaan “menggelitik”  adalah, mengapa mereka yang membawa aliran baru dengan mengusung gagasan  klasik itu, masih mendapat tempat di hati masyarakat?. Salah satu alasannya adalah karena pemimpin mereka telah “canggih” di dalam memantapkan suatu keyakinan yang ditanamkan. Disamping semangat yang tak pernah pudar dan nyali yang  tak kunjung surut. Serta cara kerja yang terencana dengan baik, dan  mereka juga mampu menjalankan pembagian tugas dengan rapi.

Sementara Aswaja an-Nahdliyyah telah kehilangan “ruhnya” di tengah masyarakat. Jika persoalan teologis sudah dirampungkan oleh para ulama terdahulu, berarti permasalahan saat ini terletak pada generasi penerus yang tidak memahami ajaran-ajaran tersebut, atau kalaupun mereka paham, tetapi tidak ada usaha untuk menyebarkannya, baik melalui ucapan, tulisan atau tingkah laku keseharian. Sehingga tidak dapat disalahkan jika umat berusaha mencari pedoman lain yang menurut mereka lebih “sesuai dengan al-Qur’an dan al-hadits.”

Sinyalemen seperti ini pernah dikemukakan oleh KH. Hasyim Muzadi. Dalam sebuah tulisannya yang berjudul   “Bangsa dan Ideologi Transnasional” beliau menyatakan:
Proses mencairnya kultur keagamaan seperti ini mengandung implikasi sosial yang perlu diwaspadai oleh warga nahdliyyin. Jika tidak diwaspadai, gejala sosial ini akan menimbulkan kerawanan sosial yang cukup serius bagi kelangsungan ajaran NU. Masalahnya terletak pada anak-anak muda tersebut yang tidak memahami ajaran aswaja seutuhnya, sehingga memungkinkan  ajaran-ajaran model baru gampang masuk dan mempengaruhi cara berfikir dan bertindak mereka. Kekhawatiran ini sesungguhnya sudah terjadi, ada sejumlah anak muda NU –bahkan ulama NU—yang “ikut-ikutan” manjadi aktifis FPI, HTI, MMI atau PKS. (KH. Hasyim Muzadi dkk, Mewaspadai Gerakan Transnasional, 21)
Jadi sebenarnya terdegradasinya ajaran aswaja di tengah masyarakat, bukan karena dalil-dalil atau konsep yang ditawarkan ideologi  “pendatang baru” lebih kuat atau lebih mapan daripada  keyakinan yang telah lama berkembang di Indonesia khususnya aswaja an-nahdliyyah. Melaikan berasal dari internal kita sendiri yang enggan untuk melakukan penguatan ideologi. Sehingga ketika ada yang menyerang, kita tidak siap untuk melakukan “perlawanan”.

Harus diakui, sejak era reformasi bergulir, kita kadang terlena dengan urusan politik praktis. Tidak sedikit yang hanyut ikut larut dalam arus politik. Para elit NU tidak kalah sibuk mengejar kekuasaan. Akibatnya, penguatan internal NU dan pemberdayaan umat, terabaikan. Memang tidak ada larangan berpolitik praktis sepanjang diikhtiarkan untuk kepentingan NU. Namun hal tersebut jangan sampai “menenggelamkan” misi utama kita dalam memperjuangkan Aswaja. Lebih miris lagi apabila tidak ada pembagian tugas yang jelas antara ulama NU yang berpolitik praktis dan yang mengayomi umat, karena pada gilirannya akan melahirkan hal  yang  memprihatinkan. Sebagai ilustrasi:
Dulu, para kiai NU itu sangat mulya. Foto mereka diletakkan dalam bingkai yang begitu indah dan mahal harganya. Foto itu dipajang di ruang tamu, kantor, majlis taklim dan tempat-tampat lain yang terhormat. Umat memandangnya  dengan penuh hormat dan rasa bangga sembari terlintas keinginan di hatinya untuk bertemu seraya ingin mencium tangannya sebagai ungkapan rasa cinta kepada pemimpinnya. Namun kini kondisi itu berubah seratus delapan puluh derajat. Foto mereka dalam ukuran besar menjadi “penunggu” perempatan jalan, digantung di pohon asam dan sebagainya karena digunakan oleh calon gubernur, bupati, legislatif untuk menarik massa. Setiap hari terkena debu jalanan, kehujanan, kepanasan, bahkan terkadang diterjang angin sehingga posisi balihonya terbalik. Setiap orang yang lewat hanya meliriknya tanpa ekspresi,  atau jika yang lewat adalah bukan pendukung sang Calon, kadang ia mencibir foto itu. Oh, sungguh malang nasib foto-foto mereka.

Melihat kenyataan seperti ini, maka perlu ada upaya dari para kader NU untuk kembali membumikan ajaran aswaja dalam keseharian kita. Melakukan penguatan ke dalam dengan kembali meneguhkan ajaran aswaja an-nahdliyyah di tengah masyarakat. beberapa usaha yang harus dilakukan oleh generasi muda ahlussunnah wal jamaah, antara lain:
a.     Memperluas dan memperdalam pengetahuan tentang Ahlussunnah wal Jama’ah serta meningkatkan penghayatan dan pengamalannya juga mensosialisasikannya kepada umat.
b.     Meningkatkan keluhuran citra ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah, dengan meningkatkan mutu pelaksanaannya.
c.     Membuktikan keunggulan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah dengan memperbanyak membaca dan mengkaji Kutub al-Turats. Bermusyawarah serta berdiskusi untuk menjawab persoalan-persoalan yang muncul kepermukaan, kemudian menjadikan ajaran ASWAJA sebagai alternatif solusinya.
d.     Perlu adanya pembagian tugas yang jelas diantara kader NU yang bertugas diwilayah politik praktis dan yang menjadi pengayom umat.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan lahir-batin kepada para kader Nahdlatul Ulama untuk bangkit  mengawal Aswaja ditengah dahsyatnya gelombang perubahan saat ini. Amin


* Disampaikan pada acara Serasehan “PERAN NU DALAM PERSPEKTIF KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA”. Bertempat di Gedung Astra Nawa, Jl. Gayungsari barat no.35 Surabaya. Ahad Tanggal 17-Juni-2012

#semoga bermamfaat khususnya kaum
 nahdliyin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar